Frau: Konser Peluncuran Sederhana Rumah Baru Happy Coda


Leliani Hermiasih Suyenaga dan sebuah keyboard elektrik yang bisa mengeluarkan efek suara seperti piano klasik, Oskar, adalah sebuah kesatuan untuk satu fenomena unik di dunia musik Indonesia bernama Frau. Saat mendengarkan suara merdu dan lantunan melodi dari Frau merupakan momen di mana hati akan merasakan tenang, nyaman, dan bahagia.

Debut mengagumkan dari Starlit Carousel, album pertama Frau, sekitar tiga tahun lalu merupakan perkenalan yang indah. Hampir semua orang yang saya kenal membicarakannya. Penghargaan untuk karya terbaik didapat di sana-sini. Pagelaran musik yang dipentasinya selalu ramai. Lirik yang naratif, permainan piano yang memukau, dan kekuatan vokal Lani – panggilan Leliani – menjadi sebuah karakter khas Frau.

Tapi, ke manakah perempuan 23 tahun selama dua tahun belakangan ini? Jawabannya terdapat dalam sebuah peluncuran album barunya tanggal 28-29 Agustus lalu di auditorium sebuah lembaga budaya Indonesia-Prancis di Yogyakarta, tempat kelahiran Lani.

Album yang dirilis di netlabel Yes No Wave ini bertajuk Happy Coda. Rumah bagi delapan lagu barunya. Ketika mendengarkan lagu-lagu di Happy Coda, yang dirilis sembilan hari sebelum waktu peluncurannya, saya hanya bisa terdiam dan langsung merasakan kebahagiaan-kebahagiaan. Saya mengulang kata ‘kebahagiaan’ dua kali karena tidak bisa menentukan kata lain yang tepat. Barusan adalah kali ketiga saya menuliskannya lagi. Kebahagiaan selanjutnya adalah mendapat kesempatan untuk menyaksikan langsung peluncuran albumnya. Mengingat Lani akan melanjutkan studinya di luar negeri.

Sore di hari Rabu itu, sekitar pukul enam, saya sampai di Jalan Sagan Nomor 3, Yogyakarta. Lani mengajak Papermoon Puppet Theatre untuk berkolaborasi dan sebagai tim artistik panggung. Papermoon Puppet Theatre adalah sebuah teater boneka kontemporer yang sangat jelas menggunakan boneka untuk media menyampaikan seni dan pesan. Waktu itu tempat masih sepi tetapi terlihat juga kesibukan persiapan.

Kira-kira satu jam kemudian, keramaian mulai tiba. Pemegang tiket yang sangat beruntung mulai berdatangan. Tiket konser dijual beberapa hari sebelumnya dengan kuantitas terbatas sekali. Peluncuran album Happy Coda ini juga dimeriahkan oleh Answer Sheet, trio musisi yang juga berasal dari kota pelajar.

Answer Sheet membuka syukuran tersebut dengan membawakan nomor-nomor andalan dari album Chapter 1: Istas Promenade. Petikan gitar, ukulele, dan bass yang menyemangatkan dalam lagu “Stay,Leave”, “The Pleasant Drink of United Ink”, dan “A Love Beach, Sadranan” menghangatkan suasana auditorium yang rapat.

Usai berakhirnya penampilan Answer Sheet, meninggalkan tata panggung yang ditutup dengan layar hitam, tampak wajah-wajah penasaran dari mereka yang hadir.


Tidak lama, layar dibuka. Tata cahaya yang indah menampilkan siluet Frau yang tertutup sebuah jendela dengan tirai warna putih memainkan lagu pertama, “Something More”. Lagu yang juga menjadi pembuka di album Happy Coda. Kemudian gelap lagi. Frau kemudian berjalan diterangi senter menuju pasangannya di bagian panggung lain, Oskar. Lucunya, setelah menyalakan lampu, Lani langsung menyapa dengan “Baaa!”. Suasana yang canggung dan tegang langsung cair seketika diiringi tawa penonton.

Malam itu, Lani mengenakan gaun bermotif bunga-bunga dan terlihat sangat cantik dengan dandanan sederhana. Apa adanya. Dekorasi panggung memperlihatkan pot bunga dari kaleng-kaleng bekas, kusen dan jendela kayu yang digantung. Lampu yang dinyalakan Lani berada di samping tempat dia bermain bersama Oskar dan kabelnya dililitkan di batang kayu. Meja kayu, kursi kayu, koper, dan boneka kecil juga terlihat di panggung.

Frau langsung memainkan lagu kedua, “Water”. Papermoon Puppet Theatre menjadi pengiring tembang tersebut. Boneka seorang nenek yang menyiapkan minuman teh untuk Lani sebagai visualisasinya. Lagu selesai dan Frau meminum teh racikan nenek. Kemudian menjelaskan tentang filosofi “Water”, perumpamaannya dari perjumpaan dengan Mbak Tunut di suatu desa di Pekalongan. “Jika aku adalah sungai yang mengalir dan mencari, maka Mbak Tunut adalah danau yang tenang dan menetap,” jelasnya.

Visualisasi unik ketika lagu “Empat Satu” adalah boneka laki-laki yang bermain kartu dan di “Mr. Wolf” tergambarkan boneka kecil yang mengejar sepasang sepatu berwarna merah yang dimainkan secaraabsurd tetapi terlihat nyata. Kemudian usai dua lagu yang dijadikan satu, Frau mengenalkan dirinya dan memberitahu nama keyboard elektrik yang telah kita ketahui, Oskar.

“Whispers” pun meneruskan jalannya konser tunggal. Boneka laki-laki dengan sebuah koper ditinggalkan di panggung ketika lagu rampung. Menjadi seorang penonton membuat saya kebingungan untuk memilih. Pilihannya adalah menyaksikan Frau dan melihat bagaimana mimiknya memperlihatkan emosi, tangannya menekan tuts, dan caranya memainkan vokal atau bagaimana Papermoon Puppet Theatre dengan elegan menyampaikan imajinasi secara visual lewat boneka-bonekanya.


“Tarian Sari”, nomor yang telah dirilis lebih dulu bulan Juni lalu, menjadi lagu selanjutnya. Perasaan saya seperti terjatuh ke sebuah lubang. Emosi yang disampaikan oleh Frau dengan cara memainkan tutsnya lebih kuat dan mengeluarkan vokal lebih keras mengembangkan ketertusukan yang saya alami. Saya membiarkan perasaan saya jatuh lebih jauh dan tidak peduli apa yang menunggu di bawah.

Setelah lagu tuntas, Frau menjelaskan ketakutannya untuk memulai lagu “Tarian Sari”. Sama seperti “Mesin Penenun Hujan”, setelah intro terdapat jeda yang harus dimulai dengan suara vokal. “Ketika itu, takutnya sampai ubun-ubun,” ujar Lani mengakuinya. Perempuan yang dialek Jawa Tengah-nya terasa kental ini juga berujar bahwa ia menyukai lagu-lagu berdurasi pendek karena pesannya lebih mudah disampaikan tanpa mengulang-ulang.

“Suspens” dan “Arah” menjadi penutup konser yang berdurasi kira-kira empat puluh menit. Empat puluh menit yang sangat cepat. Waktu berjalan seperti saat kita terjebak dalam obrolan yang sangat seru dengan orang kesayangan. Seperti sedang menyaksikan teman yang sudah lama kita kenal. Seperti perjalanan jauh yang indah dan mengantar kepulangan teman perjalanan, ragu-ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Seperti sebuah orkestra megah yang menyeruak masuk dan menitipkan rindu. Jatuh cinta dan siap untuk menghadapi apa yang ditawarkan cinta.

Penonton bertepuk tangan keras panjang dengan antusiasme yang tinggi saat Lani dan Papermoon Puppet Theatre memberikan salam perpisahan. Sulit untuk melupakan pengalaman seperti itu.

Sebelum berpisah, Lani berkata, “Semoga kebahagiaan sederhana dari Happy Coda bisa menginspirasi teman-teman untuk merasakan dan melakukan kebahagiaan-kebahagiaan sederhana.”


(Sumber : gigsplay.com)
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013 | Soasix Music Consultant - All Rights Reserved