Banda Neira: Keselarasan Musik, Geografis, Dan Iklim




Banda Neira galibnya dikenal sebagai salah satu dari enam pulau di Kepulauan Banda, berada dalam tatanan geografis Maluku Tengah. Di masanya, daerah ini menjadi lahan pengerukan rempah-rempah oleh VOC. Dari pengerukan tersebut Banda Neira didaulat sebagai pusat perdagangan pala dan fuli dengan wilayah cakupan, dunia. Wikipedia menyertakan keterangan awam seperti itu.

Dari Banda Neira pula bapak bangsa Indonesia, Hatta dan Sjahrir menikmati vakansi dengan status ‘pembuangan’. Rutinitas vakansi Hatta awamnya mengelilingi kebun pala setiap pukul lima sore hingga dijadikan penanda petani, ketika Hatta datang berarti masa waktu kerja harian mereka telah selesai. Di sisi berikutnya, Hatta memadu romantisme dengan buku sementara Sjahrir megunggah sisi flamboyannya bercengkrama bersama musik klasik Beethoven, mengucur deras bersama gramofon.

Keharmonisan manusia dan alam Banda Neira bertolak memunculkan gubahan komponis Indonesia, Ismail Marzuki berjudul “Bandaneira”. Kronik Banda Neira berlanjut, diawal tahun 2012, Banda Neira muncul dalam satu piranti kelompok musik padu padan dengan nafas desiran geografis pegunungan dan iklim Maluku. Adalah Ananda Wardhana Badudu (Ananda) dan Rara Sekar Larasati (Rara) bertitah secara lugas membuat narasi; mempercakapkan gitar dan vokal. Secara bernas kedua manusia ini memilih lema Banda Neira bertolak dari pemaparan diatas, disamping kalimat Sjahrir “Disini benar-benar sebuah firdaus”.

Kemunculan Banda Neira dalam satu kelompok musik bermula dari keisengan Ananda dan Rara. Tameng dari keisengan proyek ini mewujudkan banyaknya pendengar yang meluangkan waktu untuk menyimak mereka, bukan hanya sekedar nisbah. Mereka resmi memperkenalkan Bandar Neira pada akhir Februari 2012 dalam sebuah ajang syukuran wisuda bernama Sorge di lingkungan Universitas Parahyangan–saat itu bertepatan Rara menyelesaikan jenjang pendidikannya.

Kedua manusia ini sudah lama menjalin pertemanan. Terpisah, karena Ananda harus pindah ke Jakarta meneruskan pekerjaannya sebagai wartawan Tempo sejak 2010. Bertemu (kembali), setelah Rara menyelesaikan studinya dan menjadi tenaga magang LSM Kontras. Di paruh waktu istirahat kerja, Banda Neira dilanjutkan dan tetap memegang asas iseng dengan premis seru-seruan. Korelasi kejadian tersebut menghasilkan nama mini album Banda Neira.

Di paruh waktu, kedua manusia menikmati percakapannya bersama Banda Neira, salah satu dari mereka harus pergi karena pekerjaan. Rara harus berpisah, dia menerima pinangan kerja dari Bali. Tidak mau membiarkan materinya terhambur tak terurus, Banda Neira memutuskan untuk merekam empat lagu–nantinya dikenal dalam mini albumnya–sebelum Ananda dan Rara ada dalam batasan, jarak. Begitu eratnya mereka dengan perpisahan dan begitu akrabnya Banda Neira dengan syukuran.

Tanggal 8 Agustus 2012, Banda Neira resmi memperkenalkan mini albumnya, Di Paruh Waktu. “Di Atas Kapal Kertas,” “Ke Entar Berantah,” “Kau Keluhkan,” dan “Rindu” (Musikalisasi Puisi Subagio Sastrowardoyo) itulah keempat lagu yang mereka kategorikan sebagai Nelangsa Pop–kategori musik yang diberikan oleh temannya. Cukup mudah memperkenalkan Banda Neira melalui bantuan media sosial–yang menjadikan jarak terpangkas jauh–Facebook dan Twitter. Disamping itu kemudahan untuk mendapatkan dan menikmati Banda Neira tertera dalam unduhan gratis.

Meskipun terpisah jarak–bisa dipangkas melalui simulasi sosial media–Banda Neira tetap berjalan normal. Ananda dan Rara menaikkan sedikit level mereka dalam bermusik dari iseng menjadi iseng agak serius, bertolak dari respon baik sang pendengar Banda Neira yang menyimak Di Paruh Waktu. Hasilnya, mereka tengah mempersiapkan materi baru yang juga akan disebar secara gratis.


(Sumber : gigsplay.com)
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013 | Soasix Music Consultant - All Rights Reserved